KESENIAN BANTENGAN SEBAGAI BUDAYA ASLI KEBANGGAAN MASYARAKAT

KESENIAN BANTENGAN SEBAGAI BUDAYA ASLI KEBANGGAAN MASYARAKAT

 
 Indonesia adalah bangsa yang mempunyai ragam kebudayaan yang bermacam- macam. Seni tradisional yang tetap ada sampai saat ini, perlunya diperkenalkan dan dilestarikan oleh masyarakat Indonesia, sebagai sampel Kesenian Bantengan yang berada di Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang.
     
    A.    Pengantar
Menurut pandangan Arnold (Jenks, 2013: 26), Kebudayaan yaitu kajian tetang kesempurnaan, menuntut kita… untuk memahami kesempurnaan manusia yang sesungguhnya sebagai kesempurnaan yang harmonis yang membangun semua sisi kemanusiaan kita dan sebagai kesempurnaan umum, yang membangun semua bagian masyarakat kita. Menurut Tylor (Jenks, 2013: 44), Kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan serta kebiasaan- kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai seorang anggota masyarakat. Menurut pandangan Malinowski (Jenks, 2013: 57) menyebut kebudayaan sebagai warisan sosial. Dari ketiga pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa kebudayaan merupakan hasil dari tingkah laku atau warisan sosial manusia yang mempunyai nilai tinggi dalam kehidupannya.
Indonesia merupakan bangsa yang memiliki beragam kebudayaan, salah satu unsurnya yaitu kesenian. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kesenian khas yang berbeda-beda dengan daerah lain. Di Malang misalnya, selain Tari Topeng juga berkembang seni Bantengan.
Seni  Bantengan telah ada sejak jaman Kerajaan Singasari dengan adanya relief di situs Candi  Jago Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. Walaupun pada masa tersebut bentuk kesenian Bantengan belum seperti sekarang, yaitu berbentuk topeng kepala bantengan yang menari. Kesenian ini berkembang pesat sejak tahun 1960-an ketika masa Orde Lama. Setiap perayaan atau pawai hari ulang tahun kemerdekaan senantiasa ditampilkan bersama dengan tari Liang Liong. Kesenian Bantengan pada awalnya selalu dihadirkan pada tiap acara selamatan, suroan serta acara-acara hajatan masyarakat Jawa Timur khususnya warga Malang. Festival tahunan yang menjadi event ikon kota juga sering diadakan setiap tahunnya.
Seni  Tradisional  Bantengan,  merupakan  sebuah  seni pertunjukan  budaya  tradisi  yang menggabungkan  unsur  sendra tari, olah kanuragan, musik, dan syair atau mantra yang sangat kental dengan  nuansa  magis. Kesenian Bantengan yang berkembang dimasyarakat saat ini, sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat tersebut sejak duhulu kala. Namun seiring dengan pesatnya jenis hiburan lainnya, seni Bantengan mengalami penurunan.
Perkembangan kesenian Bantengan mayoritas hanya berada di masyarakat pedesaan atau wilayah pinggiran kota di daerah lereng pegunungan di Jawa Timur tepatnya di Bromo-Tengger-Semeru, Arjuno-Welirang, Anjasmoro, Kawi dan Raung-Argopuro. Oleh karenanya kesenian ini membutuhkan perhatian yang serius dari berbagai lini masyarakat, yang berkepentingan untuk ikut bertanggung-jawab. Dengan ditulisnya artikel ini diharapkan sebagai pengetahuan dan motivasi untuk  membangun kembali Kesenian Bantengan agar mampu  mampu menjadi salah satu budaya asli kebanggaan masyarakat diantara himpitan kebudayaan asing.
B.     Gambaran Umum Kesenian Bantengan
Seni  tradisional  Bantengan  adalah  sebuah  seni pertunjukan  budaya  tradisi  yang menggabungkan  unsur  sendratari, olah kanuragan, musik, dan syair (mantra) yang sangat kental dengan  nuansa  magis. Pemain  Bantengan  yakin  bahwa permainannya akan semakin menarik apabila telah masuk tahap trance  yaitu  tahapan  pemain  pemegang  kepala  Bantengan menjadi kesurupan arwah  leluhur banteng  (Dhanyangan). Setiap grup Bantengan minimal mempunyai dua Bantengan seperti halnya satu pasangan yaitu Bantengan jantan dan betina.
Permainan  kesenian  Bantengan dimainkan oleh dua orang  yang berperan sebagai  kaki  depan sekaligus  pemegang  kepala bantengan dan pengendali tari Bantengan serta kaki belakang yang juga berperan sebagai ekor Bantengan. Kostum Bantengan biasanya terbuat dari kain hitam dan topeng yang berbentuk kepala banteng yang terbuat dari kayu serta tanduk asli banteng. Bantengan selalu diiringi oleh sekelompok orang yang memainkan musik khas Bantengan yaitu alat musik berupa gong, kendang, dan lain-lain. Biasanya lelaki bagian depan akan kesurupan dan orang yang di belakangnya akan mengikuti setiap gerakannya. Tak jarang orang di bagian belakang juga ikut kesurupan, tetapi sangat jarang terjadi orang yang di bagian belakang kesurupan sedangkan bagian depannya tidak.
Bantengan dibantu agar kesurupan oleh orang (laki-laki) yang berpakaian serba merah yang biasa disebut abangan dan kaos hitam yang biasanya disebut irengan. Bantengan juga selalu diiringi oleh Macanan. Kostum Macanan ini terbuat dari kain yang diberi pewarna (biasanya kuning belang oren), yang dipakai oleh seorang lelaki. Macanan biasanya membantu Bantengan kesurupan dan menahannya bila kesurupannya sampai terlalu ganas. Namun tak jarang Macanan juga kesurupan.
Ornamen yang terdapat di Bantengan yaitu:
1.      Tanduk  (banteng, kerbau, sapi, dan lain-lain)
2.      Kepala banteng yang terbuat dari kayu berukir menyerupai kepala banteng (waru, dadap, kemiri, nangka, loh, kembang, dan lain-lain)
3.      Mahkota Bantengan, berupa  sulur wayangan dari bahan kulit atau kertas
4.      Klontong  (alat bunyi di leher)
5.      Keranjang penjalin (rotan), sebagai badan (pada daerah tertentu hanya  menggunakan kain hitam sebagai badan penyambung kepala dan kaki belakang)
6.      Gongseng kaki
7.      Keluhan (tali kendali)
Dalam setiap pertunjukannya (disebut gebyak), Bantengan didukung beberapa perangkat, yaitu:
1.      Dua orang Pendekar pengendali kepala bantengan (menggunakan tali tampar).
2.      Pemain jidor, gamelan (dua gong, kendang, dan kenong), pengrawit, dan sinden. Minimal satu orang pada setiap posisi.
3.      Sesepuh, orang yang dituakan. Mempunyai kelebihan dalam hal memanggil leluhur Banteng (Dhanyangan) dan mengembalikannya ke tempat asal.
4.      Pamong dan pendekar pemimpin yang memegang kendali kelompok dengan membawa kendali yaitu pecut(cambuk).
5.      Minimal ada dua Macanan dan satu Monyetan sebagai peran pengganggu Bantengan.






C.    Hasil Observasi
Biografi Narasumber
Narasumber 1
Nama               : Samsuri
Umur               : 28 tahun
Jenis Kelamin  : Laki-Laki
Pendidikan      : SD
Agama             : Islam
Alamat                        : Jl. Kertanegara Tumpang Malang

Pak Samsuri telah menekuni kesenian Bantengan ini sejak sekitar tujuh tahun yang lalu. Berawal hanya ikut-ikutan, kemudian Pak Samsuri menjadikan kesenian Bantengan ini sebagai hobi, dan bahkan pada saat ini beliau telah benar-benar mendalami Kesenian Bantengan.
            Pak Samsuri menilai bahwa Kesenian Bantengan memiliki arti tersendiri di dalam hidupnya. Ia menyukai Kesenian Bantengan karena ia dapat mengenal seni secara lebih dalam  khususnya kesenian asli daerah. Selain itu, disisni ia juga dapat belajar karya seni lain  yang berhubungan dengan kesenian Bantengan seperti membuat Pecut.
            Meskipun demikian kesenian bantengan tidak menjadi pekerjaan utama dari pak Samsuri. Hal ini dikarenakan kesenian bantengan hanya tampil pada acara-acara tertentu, dan itupun tidak rutin. Pendapatan dari kesenian Bantengan tidak seberapa, bahkan dalam sebuah pertunjukan pernah juga tidak dibayar dengan uang dan hanya dibayar dengan makanan.
Terkadang pada saat pementasan Bantengan timbul beberapa masalah baik dengan pemain maupun dengan penonton. Hal ini menurut pak Samsuri pernah terjadi ketika pemain Bantengan sedang kesurupan dan tidak bisa dikendalikan oleh penjaga sampai mengenai penonton yang ada di sekitarnya. Insiden ini menimbulkan tawuran antara penjaga dan penonton yang terkena tadi.
            Dibalik ketidakpastian akan bayaran dan beberapa insiden yang terjadi dalam pertunjuk kesenian Bantengan, terdapat cerita unik yang dialami khususnya oleh pak Samsuri. Saat itu pemain yang sedang kesurupan tiba-tiba meminta diantar ke penjual bakso dan meminta baksonya. Selain itu pemain yang kesurupan pernah juga meminta agar kepalanya dipegang oleh wanita cantik yang menonton.
Menurut pak Samsuri kesenian Bantengan mampu bertahan hingga sekarang karena ini merupakan kesenian yang harus dijaga kelestarianya dan jangan sampai punah. Selain itu nilai filosofis yang terkandung dalam kesenian Bantengan ini menjadikan masyarakat lebih mencintai dan melestarikan kesenian Bantengan. Hal ini terbukti dengan tanggapan positif masyarakat terhadap kesenian Bantengan yang setiap kali penampilanya selalu disaksikan banyak penonton.
            Dalam perkembanganya kesenian Bantengan mengalami tambahan kreasi agar tidak terkesan monoton dan lebih menarik penonton. Pada saat ini, kesenian Bantengan biasa ditampilkan dengan disertai Kuda Lumping. Kesenian Bantengan di tampilkan pada acara tertentu yang dianggap sakral seperti pada malam jum’at legi dan upacara di Tengger. Namun ada juga penampilan Bantengan yang hanya bersifat hiburan yaitu seperti Karnaval dan hajatan warga (khitanan dan nikahan).
Pak Samsuri berharap khususnya pada anak-anak dan keluarganya agar tetap melestarikan kesenian Bantengan ini supaya tidak punah di kemudian hari. Ia berpesan demikian karena didalam kesenian bantengan ini terdapat banyak filosofi dan ilmu yang bekaitan masalah kehidupan.

Narasumber 2
Nama               : Ihsan Subero
Tanggal Lahir  : 12 Oktober 1960
Jenis Kelamin  : Laki-laki
Agama             : Islam
Alamat                        : Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang

Menurut pak Ihsan Subero, kesenian Bantengan ini telah ada sejak zaman kerajaan Hindu-Budha di Jawa Timur, khususnya pada zaman kerajaan Singosari. Hal ini terbukti dengan adanya relief yang menggambarkan kesenian Bantengan di Candi Jago Tumpang Malang. Bantengan menjadi sebuah ikon dari ketangkasan, kekuatan dan kelincahan. Pada zaman kerajaan Hindu-Budha Bantengan merupakan suatu ritual yang ditampilkan hanya di waktu-waktu tertentu yang dianggap sakral (ritual keagamaan). Namun setelah masuknya pengaruh agama Islam di Indonesia khususnya di wilayah Jawa Timur, Bantengan digunakan oleh para wali sebagai kesenian yang dipertontonkan kepada masyarakat umum sekaligus menjadi media dakwah. Mekanisme dakwah dari para wali ini yaitu pertama dengan menggelar kesenian Bantengan untuk menyedot antusias masyarakat, baru setelah warga masyarakat berkumpul di sela pertunjukan bantengan di isi dengan dakwah-dakwah Agama Islam. Inilah menurut pak Subero yang menjadikan Islam mudah diterima oleh masyarakat sekitar.
Pak Ihsan Subero menekuni kesenian Bantengan ini sejak tahun 1979, dimana pada waktu itu beliau mendirikan sanggar seni Dharmawijaya. Pada mulanya, beliau menekuni kesenian Ludruk, namun dalam perkembanganya juga menekuni kesenian Jaran Kepang, Topengan dan yang pasti kesenian Bantengan. Kesenian Bantengan mulai dipelajari ketika pak Subero duduk di bangku sekolah. Selain itu beliau juga mempelajari kesenian Bantengan dari buku-buku yang beliau baca. Kesenian Bantengan semakin melekat pada jiwa pak Subero ketika ia melihat guru keseniannya membuat dan memainkan Bantengan. Dari sisnilah pak Subero belajar tentang kesenian Bantengan. Setelah itu beliau mengembangkan sendiri kesenian Bantengan yang secara dasar telah ia miliki sebelumnya dengan cara Otodidak.
Pak Subero memutuskan untuk menjadi pelaku dalam kesenian Bantengan karena beliau merasa peduli dengan kesenian asli daerah yang salah satunya berupa kesenian Bantengan. Beliau beraggapan ”jika tidak anak daerah sendiri yang peduli dengan kesenian asli daerah, lalu sipa lagi…???”. Beliau juga menkritik mengenai kepedulian pemerintah  mengenai kesenian asli daerah yang hanya gembor-gembor peduli, menjaga, dan melestarikan setelah budaya asli daerah mulai di klaim oleh negara lain. Tetapi untuk kesenian seperti Bantengan beliau rasa belum tersentuh oleh kepedulian pihak pemerintah.
Kesenian Bantengan tidaklah menjadi pekerjaan utama pak Subero. Selain menekuni kesenian ini, beliau juga bertani untuk mendapatkan penghasilan, malahan petani inilah yang menjadi pekerjaan utama pak Subero. Beliau berkesenian dengan tujuan hanya untuk menyalurkan hobinya dan jiwa seni yang terdapat pada dirinya, melestarikan kebudayaan atau seni daerah, mengisi waktu luang ketika pulang dari sawah dan hanya sekedar mencari hiburan.
Dalam memainkan kesenian Bantengan tidak terlepas dari beberapa kendala salah satunya pernah terjadi saat pementasan berlangsung dan ada pemain yang sedang kesurupan tidak dapat dikendalikan oleh pawang dan pemegang tali yang mengikat Bantengan, sehingga timbul sedikit kekacauan pada saat itu. Meskipun demikian terdapat kesenangan tersendiri ketika dalam pertunjukan kesenian Bantengan terdapat banyak penonton. Penonton mejadi indikator apakah kesenian Bantengan masih menarik di masyarakat atau tidak.
Kesenian Bantengan mampu bertahan hingga sekarang ini dikarenakan masyarakat yang masih menyukai atraksi dalam kesenian ini. Menurut pak Subero ketertarikan masyarakat akan kesenian Bantegan disebabkan salah satunya kekasaran dan kelincahan pada saat penampilanya, khususnya pada saat pemain mengalami kesurupan. Unsur magis inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat terhadap kesenian Bantengan sehingga bertahan hingga saat ini. Selain itu gerakan dari Kesenian Bantengan yang relatif mudah menjadikan Bantengan mudah dipelajari bahkan oleh anak-anak sekalipun yang tidak mempunyai latar belakang jiwa seni. Bantengan merupakan kesenian Asli Jawa Timur yang harus dijaga kelestarianya dan jangan sampai di geser oleh budaya-budaya barat.
Kesenian Bantengan di dalam perkembanganya memiliki berbagai fungsi bagi masyarakat. Pada zaman dahulu, kesenian Bantengan ditampilkan untuk ritual keagamaan Hindu-Budha, menjadi sarana dakwah di masa masuknya Islam, dan hinga saat ini Bantengan dijadikan seni yang berfungsi sebagai sarana hiburan bagi masyarakat.
Pada umumnya masyarakat sekitar memberikan tanggapan yang positif terhadap kesenian Bantengan yang di lakukan oleh Pak Subero. Hal ini terbukti dari antusiasme masyarakat untuk menonton Kesenian Bantengan baik saat pertunjukan maupun hanya disaat latihan. Bahkan warga sekitar mengizinkan anaknya untuk berlatih kesenian bantengan ini. Namun ada pula yang menganggap bahwa kesenian Bantengan ini termasuk perbuatan menyekutukan tuhan, karena dalam kesenian Bantengan ini ada ritual pemanggilan dan peminta izinan terhadap arwah leluhur dengan menggunakan sesaji.
Untuk melanjutkan kelestarian kesenian Bantengan ini pak Subero mendirikan “Pedhet Jawa Timur” yang merupakan kelompok kesenian Bantengan khusus untuk anak-anak. Anggota dalam kelompok ini diajari bermain Bantengan yang nantinya juga dipentaskan. Selain mendirikan kelompok “Pedhet Jawa Timur”, pak Subero bersama teman-teman pecinta seni lainya juga merintis acara WTC (Wisata Tumpang Care), yakni sebuah event yang menjadi wadah untuk menampilkan berbagai kesenian khususnya yang ada di daerah Tumpang. Acara tahunan ini semata-mata didirikan sebagai upaya untuk melestarikan budaya asli daerah dan memperkenalkanya kepada dunia luar.
Agar kesenian Bantengan semakin diminati masyarakat, pak Subero menambahkan kreasi baru dalam kesenian Bantengan seperti memperindah aksesoris yang di pakai dan mengkolaborasikan penampilan Bantengan dengan seni tari, Jaran Kepang bahkan dengan kesenian Topeng agar tidak terkesan monoton dan membosankan.
Pak Subero berharap kepada generasi muda agar tetap melestarika budaya yang berupa kesenian Bantengan dan jangan sampai kesenian ini di geser dengan kebudayaan luar yang kurang mendidik. Beliau juga berharap kepada pemerintah agar lebih peduli dengan kelestarian budaya atau kesenian daerah.
D.    Kesimpulan
Kesenian Bantengan merupakan kesenian yang khas berada di Kecamtan Tumpang Kabupaten Malang. Pada zaman dahulu, kesenian Bantengan ditampilkan untuk ritual keagamaan Hindu-Budha, menjadi sarana dakwah di masa masuknya Islam, dan saat ini Bantengan dijadikan seni yang berfungsi sebagai sarana hiburan bagi masyarakat. Adanya perubahan fungsi dan itu merupakan hasil adaptasi suatu budaya utuk dapat eksis mengikuti perkembangan dunia. Cara-cara dalam mengembangkan Kesenian ini patut untuk dijadikan sebuah contoh oleh kesenian lain  yang hampir tenggalam. Nilai moral yang terkadung dalam artikel ini yaitu kesenian itu tidak bisa dikaitkan dengan materi, agar dengan begitu secara tidak langsung kesenian tersebut dapat berkembang dengan sendirinya karena munculnya inovasi- inovasi untuk kreatifitas yang terjadi secara sepontan atau alami.




Lampiran Dokumentasi
Gambar 1.1
Keterangan: Ini merupakan foto bentuk bantengan, yang tanduknya merupakan tanduk banteng asli dan ini merupakan batengan jantan dan betina.







Gambar 1.2
Keterangan: Ini merupakan foto macanan yang selalu mengiringi bantengan, dan macanan ini 
biasanya membantu bantengan jika terjadi kesurupan dan menahannya bila kesurupannya sampai terlalu ganas.

Gambar 1.3
 
Keterangan: Ini merupakan foto yang menggambarkan proses kegiatan permainan Kesenian Bantengan.

Daftar Rujukan
Jenks, Chris. 2013. Culture Studi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

KESENIAN BANTENGAN

KESENIAN BANTENGAN

Seni Tradisional Bantengan, adalah sebuah seni pertunjukan budaya tradisi yang menggabungkan unsur sendra tari, olah kanuragan, musik, dan syair/mantra yang sangat kental dengan nuansa magis.


Pelaku Bantengan yakin bahwa permainannya akan semakin menarik apabila telah masuk tahap “trans” yaitu tahapan pemain pemegang kepala Bantengan menjadi kesurupan arwah leluhur Banteng (Dhanyangan).
Seni Bantengan yang telah lahir sejak jaman kerajaan jaman Kerajaan Singasari (situs candi Jago – Tumpang) sangat erat kaitannya dengan Pencak Silat. Walaupun pada masa kerajaan Ken Arok tersebut bentuk kesenian bantengan belum seperti sekarang, yaitu berbentuk topeng kepala bantengan yang menari. Karena gerakan tari yang dimainkan mengadopsi dari gerakan Kembangan Pencak Silat.
Tidak aneh memang, sebab pada awalnya Seni Bantengan adalah unsure hiburan bagi setiap pemain Pencak Silat setiap kali selesai melakukan latihan rutin. Setiap grup Bantengan minimal mempunyai 2 Bantengan seperti halnya satu pasangan yaitu Bantengan jantan dan betina.
Walaupun berkembang dari kalangan perguruan Pencak Silat, pada saat ini Seni Bantengan telah berdiri sendiri sebagai bagian seni tradisi sehingga tidak keseluruhan perguruan Pencak Silat di Indonesia mempunyai Grup Bantengan dan begitu juga sebaliknya.
Perkembangan kesenian Bantengan mayoritas berada di masyarakat pedesaan atau wilayah pinggiran kota di daerah lereng pegunungan se-Jawa Timur tepatnya Bromo-Tengger-Semeru, Arjuno-Welirang, Anjasmoro, Kawi dan Raung-Argopuro.
Permainan kesenian bantengan dimainkan oleh dua orang yang berperan sebagai kaki depan sekaligus pemegang kepala bantengan dan pengontrol tari bantengan serta kaki belakang yang juga berperan sebagai ekor bantengan. Kostum bantengan biasanya terbuat dari kain hitam dan topeng yang berbentuk kepala banteng yang terbuat dari kayu serta tanduk asli banteng.
Bantengan ini selalu diiringi oleh sekelompok orang yang memainkan musik khas bantengan dengan alat musik berupa gong, kendang, dan lain-lain. Kesenian ini dimainkan oleh dua orang laki-laki, satu di bagian depan sebagai kepalanya, dan satu di bagian belakang sebagai ekornya. dan biasanya, lelaki bagian depan akan kesurupan, dan orang yang di belakangnya akan mengikuti setiap gerakannya.
Tak jarang orang di bagian belakang juga kesurupan. tetapi, sangat jarang terjadi orang yang di bagian belakang kesurupan sedangkan bagian depannya tidak. bantengan dibantu agar kesurupan oleh orang (laki-laki) yang memakai pakaian serba merah yang biasa disebut abangan dan kaos hitam yang biasanya di sebut irengan.
Bantengan juga selalu diiringi oleh macanan. kostum macanan ini terbuat dari kain yang diberi pewarna (biasanya kuning belang oranye), yang dipakai oleh seorang lelaki. macanan ini biasanya membantu bantengan kesurupan dan menahannya bila kesurupannya sampai terlalu ganas. Namun tak jarang macanan juga kesurupan.

Ornamen yang ada pada Bantengan yaitu :
Tanduk (banteng, kerbau, sapi, dll)
Kepala banteng yang terbuat dari kayu ( waru, dadap, miri, nangka, loh, kembang, dll)
Mahkota Bantengan, berupa sulur wayangan dari bahan kulit atau kertas
Klontong (alat bunyi di leher)
Keranjang penjalin, sebagai badan (pada daerah tertentu hanya menggunakan kain hitam sebagai badan penyambung kepala dan kaki belakang)
Gongseng kaki
Keluhan (tali kendali)
Dalam setiap pertunjukannya (disebut “gebyak”), Bantengan didukung beberapa perangkat. Yaitu :
Dua orang Pendekar pengendali kepala bantengan (menggunakan tali tampar)
Pemain Jidor, gamelan, pengerawit, dan sinden. Minimal 1 (satu) orang pada setiap posisi
Sesepuh, orang yang dituakan. Mempunyai kelebihan dalam hal memanggil leluhur Banteng
(Dhanyangan) dan mengembalikannya ke tempat asal
Pamong dan pendekar pemimpin yang memegang kendali kelompok dengan membawa kendali yaitu Pecut (Cemeti/Cambuk)
Minimal ada dua Macanan dan satu Monyetan sebagai peran pengganggu bantengan.

BANTENGAN, SEBUAH KEBUDAYAAN KOMUNAL
Seni bantengan adalah kesenian komunal artinya melibatkan banyak orang didalam setiap pertunjukannya. Seperti halnya sifat kehidupan hewan banteng, yaitu hidup berkelompok (koloni), kebudayaan bantengan ini membentuk perilaku masyarakat yang menggelutinya untuk selalu hidup dalam keguyuban, gotong royong dan menjunjung tinggi rasa persatuan kesatuan.
Satu contoh perilaku budaya pelaku kesenian bantengan yang mencolok adalah budaya anjang sana anjang sini, yaitu budaya balas budi antar kelompok seni bantengan apabila salah satu diantaranya diundang untuk memainkan keseniannya di daerah lain. Maka, dilain waktu kelompok seni bantengan yang ada di daerah tersebut akan bergantian mendatangi kelompok bantengan yang sebelumnya membantu meramaikan sebuah acara di daerahnya.

SEJARAH KESENIAN BANTENGAN KOTA BATU
Perkembangan kesenian bantengan di Kota Batu telah dimulai sejak pada jaman perjuangan. Pada masa tersebut, para pemuda Kota Batu (yang masih menjadi bagian Kadipeten Malang) banyak dikirim ke Pondok Pesantren untuk mempelajari Ilmu Kanuragan Pencak Silat yang berpusat di daerah Jombang.
Seperti yang telah disebutkan diatas, erat kaitan kesenian bantengan dengan Pencak Silat, maka setelah nyantri (mencari ilmu di Pondok Pesantren) para pemuda Batu kembali kekampung halaman dan mendirikan padepokan Pencak Silat. Untuk menarik para pemuda yang ada di perkampungannya mau mempelajari Kanuragan Pencak Silat, maka dikembangkanlah kesenian Bantengan dengan penokohan hewan Banteng yang liar sedang melawan Macan (Harimau).
Pada masa perjuangan melawan penjajah tersebut, penokohan ini dilambangkan yaitu hewan Banteng yang hidup koloni (berkelompok) adalah lambang Rakyat Jelata dan hewan Macan (Harimau) melambangkan Penjajah Belanda, serta ada tokoh hewan Monyet yang suka menggoda Banteng dan Macan serta memprovokasi keduanya untuk selalu bertarung. Monyetan ini melambangkan Provokator.
Sampai saat ini, kesenian Bantengan Batu (yang telah berotonommi menjadi Kotamadya tersendiri lepas dari Kabupaten Malang) masih terus menjaga eksistensinya. Bahkan pada perkembangannya di pelosok pelosok pedesaan, kesenian Bantengan telah mampu berdiri sendiri diluar kelompok Padepokan Pencak Silat.
Selanjutnya, kesenian Bantengan yang berkembang pesat di Batu ini dibawa oleh salah satu tokoh pencak silat di daerah Bumiaji menuju wilayah Pacet Mojokerto (karena letak dua wilayah yang berdekatan di lereng pegunungan Arjuno-Welirang) dan dikembangkan kesenian ini sampai sekarang.

Versi lain menyatakan bahwa :
Lahirnya kesenian bantengan ada dua versi
a.Berasal dari Batu
b. Berasal dari Cleket (Made) dan berkembang pesat di Pacet
a. Berasal dari kota Batu. Menurut catatan yang bersifat dari mulut ke mulut dimulai dari seorang tua bernama Pak Saimin berasal dari Batu seorang pendekar membawa kesenian ini dan bergabung dengan Pak Saman (kelompok Siliwangi) dari Pacet dan berkembang di Pacet sampai sekarang ini.
b.Berasal dari Pacet. Menurut cerita dari Pak Amir anak dari Mbah Siran yang menghidupkan kesenian Bantengan ini sampai sekarang di Claket. Akhirnya kesenian ini hidup subur sampai sekarang di Pacet dan Claket
Kedua versi itu sulit dilacak kebenarannya, mana yang lahir lebih dulu. Tetapi jelas sekali tempat yang terus melestarikan kesenian Bantengan ini adalah Pacet (sering mengadakan Festival Bantengan dan upacara tetap setiap memperingati hari kemerdekaan RI), cara swasembada layaknya kesenian tradisional lainnya di Indonesia.
Kedua versi itu masuk akal kalau dihubungkan dengan geografi kedua kawasan itu. masih banyak terdiri dari hutan belantara dan gunung. Sudah tentu Bantengan itu identik dengan hutan.
Menurut cerita Pak Amir (tokoh Bantengan) dan beberapa tokoh bantengan yang lain, seni Bantengan ini asal mulanya dari seni persilatan yang tumbuh subur di surau-surau atau langgar (mushollah).
Kesenian Bantengan ini awalnya untuk beladiri bagi pemuda di surau-surau. Tetapi akhirnya menjadi kegiatan seni untuk merayakan upacara perkawinan, sunatan atau bersih desa.
Pemikiran manusia terus berkembang, begitu juga perkembangan kesenian termasuk seni “Kitch” atau seni bawah/ tradisional.
Seni yang hidup turun temurun dari rakyat. Pencak silat itu akhirnya tidak banyak diminati masyarakat luas karena membosankan dan tidak menarik lagi.
Para pendekar mencari alternatif lain agar kesenian itu diminati lagi. Begitu sederhana sekali perjalanan kesenian Bantengan ini.
Suatu ketika Mbah Siran dari Claket itu menemukan bangkai banteng yang tergeletak di tepi sungai Kromong tepi hutan. Konon kabarnya ini terjadi karena perkelahian dua ekor banteng. Seekor kalah dan mati menjadi bangkai. Supaya tidak mubazir oleh Mbah Siran bangkai banteng ini diambil khusus kepalanya (tengkoraknya) dibersihkan dan dibawa pulang.
Kalau kepala menjangan untuk hiasan rumah, sampai sekarang masih banyak terdapat di rumah-rumah lama sebagai lambang atau simbol keberadaan seseorang, tetapi tengkorak banteng yang berkesan gagah dan berwibawa ini mengilhami Mbah Siran untuk melengkapi kesenian Bantengan yang tidak menarik lagi. Awalnya tengkorak itulah yang langsung diambil untuk dipakai sebagai “topeng” Bantengan itu melengkapi seni pencak silat dan akhirnya karena menarik, hanya Bantengan saja yang lestari sampai sekarang. Bantengan berdiri sendiri tanpa pencak silat lagi.
Akhirnya Bantengan ini menjadi cabang seni rakyat atau tradisional yang amat digemari masyarakat, meskipun sampai sekarang Pemerintah Kabupaten Mojokerto sendiri belum pernah ada usaha untuk mengangkat seni rakyat ini menjadi sebuah kebanggaan yang akhirnya bisa menjadi ikon untuk Kabupaten Mojokerto.
Mereka hidup sendiri dan ini perlu ditangani secara lebih serius agar tidak tertatih-tatih berjalan sendiri tanpa penanganan yang jelas meskipun diam-diam ia telah mengangkat citra sebuah kota dalam bidang kesenian dan kebudayaan. Barangkali ini sebuah landasan pemikiran tentang sebuah IKON.

-Bantengan Masa Sekarang
Group Bantengan di Kabupaten Mojokerto awalnya banyak sekali. Menurut catatan, dulu sampai sekarang ke daerah Gondang, Kutorejo dan Tlagan. Bahkan menurut berita dari mulut ke mulut ada juga yang masih hidup di daerah Pandan dan Wonosalam serta di kota kecil Dinoyo. Tetapi yang jalan sampai sekarang hanya Kec. Pacet dan Claket saja. Tak salah kalau banyak orang yang mengatakan bahwa Bantengan kesenian milik Pacet. Atau saling berebut antara kota Batu dan Pacet mana yang lebih dulu melahirkan Bantengan ini tetapi ini sulit dilacak kebenarannya. Mengapa demikian?
Barangkali memang benar kesenian ini dari sana dan secara geografis (Batu dan Pacet) masyarakatnya amat mendukung, hutan dan gunung. Masyarakat Pacet dan Claket memang merasa memiliki seni ini turun temurun yang di “leluri” sebagai penghargaan kepada penemu atau pencipta serta penerus sini Bantengan ini.
Akhirnya topeng Bantengan yang awalnya dari tengkorak banteng asli diganti dengan topeng buatan yang dibuat dari kayu. Ditakutkan akan terjadi perburuan liar untuk menembak banteng, meskipun akhirnya banteng itu punah dengan sendirinya.
Seni Bantengan ini terdiri dari dua pemain yang berperan menjadi seekor banteng. Pemain depan dengan dua laki-laki bertugas menjadi dua kaki banteng di depan, dan kaki milik pemain yang lain bertugas sebagai dua kaki banteng bagian belakang. Tubuh banteng dibentuk dari selembar kain hitam yang menghubungkan kepala banteng dengan ekor banteng yang dimainkan oleh pemain yang di belakang.
Kedua pemain harus kompak bermain. Bagaimana mereka harus bermain menjadi satu tubuh, satu jiwa, satu karakter, satu roh, layaknya pemain double dalam bulu tangkis Ricky Subagya dan Rexy Meinaky. Teknik mereka memaunkan Bantengan memang ada dasar-dasar tertentu.
Meskipun sebagai seni tradisi yang bersifat seni perlawanan, rasa jiwa, spontanitas “berimprovisasi” layaknya dalam musik jazz ikut mendominasi gerakan-gerakan mereka. Kalau diuraikan secara teori menurut pakar Bantengan memang ada gerakan-gerakan tertentu, misalnya : langkah dua ekor banteng , laku lombo gedong, junjungan, geser, banteng turu (tidur), perang dengan macan (harimau) atau dengan naga, banteng nginguk (melirik), tubrukan dengan macan. Macan pun punya gerakan begitu, juga gerakan pendekar.
Sekarang Bantengan pun tidak sja hanya banteng, tapi bisa juga melibatkan beinatang-binatang lain penghuni hutan (disbet buron alas). Menurut cerita mereka (penggarap Bantengan), banteng adalah simbol pengayom atau pelindung binatang-binatang lain di hutan. Ini sebuah proses panjang yang tidak bisa kita ketahui di mana mereka akan bermuara, karena pemikiran manusia itu terus berkembang (misalnya perkembangan pementasan wayang Purwo atau wayang Kuli), beladiri lewat persilatan, kemudian berubah menjadi Bantengan. Banteng musuh banteng, akhirnya banteng melawan macan, melawan ular naga, melawan kera dan melawan binatang-binatang lain (buron wana). Ini semua karena tuntutan untuk lebih menarik bagi para penonton saja.
Banteng bukan milik PDI atau partai-partai lain. Kita harus berpikir bersih dan bening demi seni dan bangsa serta kemanusiaan.

- Asal-usul
Pada awalnya Bantengan Cuma sebagai pelengkap kesenian rakyat pencakcak silat. Akhirnya Bantengan menjadi sebuah tontonan sendiri. Kalau memiliki Bantengan berarti pencak silat, tapi kalau memiliki pencak silat belum tentu memiliki Bantengan. Asal-usul Bantengan ini konon bermula dari Pacet atau Claket sebagaimana diungkapkan di atas. Namun ada yang mengatakan dari kecamtan Jatirejo dan kecamatan Trawas. Boleh jadi karena daeradaerah saat itu masih terdiri dari hutan liar yang banyak dihuni binatang banteng. Sehingga binatang ini menjadi maskot yang akhirnya melahirkan kesenian tersebut. Salah seorang tokoh Bantengan yang kini sudah almarhum adalah Mbah Siran dari desa Claket Pacet. Sebagai mandor hutan di zaman Belanda, Mbah Siran terkenal sebagai pendekar penvak silat yang energik, segar, menarik dan atraktif. Semenjak Mbah Siran menemukan bangkai banteng yang tergeletak di tepi hutan segera dibawa pulang, dibersihkan tengkoraknya saja. kalau kepala menjangan untuk hiasan rumah (sampai sekarang masih ada rumah berhiaskan kepala menjangan sebagai lambang atau keberadaan seseorang), tetapi tengkorak banteng yang terkesan gagah dan berwibawa mengilhami Mbah Siran untuk melengkapi kesenian pencak silat yang tidak menarik lagi. Awalnya tengkorak itulah yang dipakai langsung untuk topeng Bantengan melengkapi seni pencak silat. Dari Mbah Siran itulah Bantengan mulai diperkenalkan ke masyarakat luas sehingga tontonan pencak silat lebih kaya variasi. Saat itu pencak silat hanya terdiri atas “kembangan” stelan, perkelahian bebas dengan tangan kosong, clurit, kayu dan tombak. Tabuhannya (iringan musik) seperangkat gamelan atau berupa dua buah ketipung, jidor, theng-theng, rebana yang dipukul dengan “gothik" (potongan kayu). Setelah diikutsertakan dalam pencak silat, tontonan itu menjadi tontonan dengan istilah baru “Bantengan”. Kalau mengadakan tontonan di tempat tertentu Bantengan ini masih lengkap dengan pencak silat. Tapi kalau diundang untuk meramaikan karnaval atau pawai hanya Bantengan saja yang dimainkan. Pemain yang memainkan Bantengan ini dikendalikan oleh dadungawuk atau pawangnya. Gerakan mereka atraktif dan amat dinamis apalagi diiringi tabuhan yang berkesan magis. Tidak jarang permainan ini menjadi liar dan berkesan buas apalagi kalau pawangnya tidak mahir. Penerus Mbah Siran adalah Cak Amir tak beda dengan kakek dan bapaknya adalah seorang pendekar dan pemimpin sekaligus.

-Seni Bantengan dalam Konteks Mistik
Budaya nenek moyang kita dalam setiap kegiatan spiritual dan ritual biasanya menggunakan wangi-wangian. Contohnya pada saat “keleman” di sawah diberi sesaji yang diperuntukkan untuk Dewi Sri berupa cikal bakal yang di dalamnya ada unsur wewangian (bunga) memberikan sandingan, dipersembahkan pada waktu punya hajat, sesajen Malam Jumat unsur wewangian tidak aka terlepas. Tradisi semacam itu di dalam agama merupakan bagian dari ibadah, maka dicari unsur wewangian yang seakan identik dengan mistik. Langkah ini dilakukan untuk mengecoh Belanda seakan-akan pemain Bantengan berbuat musyrik. Dengan menggunakan sarana kemenyan (lokal, Arab) dupa, candu atau minyak wangi. Agar murah meriah biasanya memakai kemenyan lokal ditambah minyak wangi, baunya semerbak menyengat. Dengan unsur kepura-puraan pula seakan mendatangkan roh halus sehingga pemain seni Bantengan kesurupan, padahal ia bisa memainkan seni Bantengan bukan karena kesurupan. Karena didukung bau wewangian sehingga mampu menunggaling kawula lan Gusti akhirnya keberhasilan yang diharapkan dalam memainkan seni peran dapat dikabulkan oleh Tuhan.